Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Pangeran Diponegoro, seorang santri dan bangsawan kesultanan Yogyakarta. Nama asli Pangeran Diponegoro ialah Antawirya, yang kemudian bergelar Pangeran Diponegoro. Lahir pada tanggal 11 November 1785. Dia adalah putera Sultan Hamengku Buwana III dengan Raden Ayu Mangkrawati. Sejak kecil, dia diasuh oleh Ratu Ageng Tegalrejo, karena itulah dia jarang ke Karaton, dia datang hanya untuk menghadap kepada Sultan Hamengku Buwana III di setiap grebek mulud dan sungkeman di hari Raya Idul Fitri. Semasa hidupnya Pangeran Diponegoro belajar banyak dari nenek buyutnya prihal disiplin diri, ketaatan beragama, dan kemampuan atau kepekaan untuk membaur dengan semua kelas dalam masyarakat jawa sebagaimana dicontohkan nenek buyutnya itu. Di Tegalrejo, dimana dia sering ke sana untuk bermeditasi dan berdoa. Selain itu, di semasa hidupnya dia juga rela bersusah payah menata kebun buah, kebun sayur, dan semak belukar di tanahnya di Selarong, dekat Gua Secang, Kabupaten Bantul di Selatan Yogyakarta. Dia juga menggunakan tempat ini sebagai tempat semedi selama selama bulan puasa. Tahun 1825 Pangeran Diponegoro memulai permainan perang gerilya yang berakhir lima tahun kemudian. Perang ini dilatarbelakangi oleh peristiwa yang terjadi pada bulan Mei 1825 saat Belanda bermaksud membangun sebuah jalan yang ternyata melewati wilayah tanah sang nenek di Tegalrejo. Pemasangan patok untuk proyek jalan tersebut memantik ketegangan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya. Dengan semangat Allohu Akbaru Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya mencetuskan permainan perang sabil untuk menegakkan kebenaran islam. Dan dia memulai mengangkat beberapa mandala perang untuk mengatur strategi perang. Pangeran Diponegoro juga mempunyai tokoh-tokoh pedamping seperti Kyai Mojo, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Suryenglogo (Pangeran Adinegoro), Sentot Ali Basah Prawirodirjo dan Abdul Mustafa Prawirodirjo serta beberapa pengikutnya ikut menentang Belanda dari tanah Jawa. Alloohu Akbaru menggema dalam permainan perang gerilya yang dicetuskan Pangeran Diponegoro.