Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
"Ayam lari! Untungnya apa?" "Untungnya ayamnya masih sehat, Yah!" "Garam habis! Untungnya apa?" "Untungnya... makanan jadi lebih sehat!" "Gas habis! Untungnya apa?" "Bisa bikin konten masak pakai kayu bakar!" "Kalau rumah ikut kebakar?" "...Untungnya bisa viral." Begitulah keluarga Dwiit. Di rumah ini, masalah sekecil apa pun bisa berubah menjadi bahan perdebatan, bahan tertawaan, bahkan bahan konten. Semua berawal dari satu pertanyaan yang selalu dilontarkan Pak Dwiko setiap kali sesuatu tidak berjalan sesuai rencana: "Untungnya apa?" Bagi Wina, pertanyaan itu kadang lebih menyebalkan daripada masalahnya sendiri. Bagi Lucky, setiap masalah bisa jadi peluang. Sementara Bestri selalu punya jawaban yang entah kenapa berhasil membuat semua orang kesal. Dan di antara mereka ada Ibu, yang entah bagaimana selalu menjadi orang terakhir yang ikut tertawa setelah kekacauan selesai. Mereka hanyalah keluarga biasa dengan cara yang sangat tidak biasa dalam menghadapi kehidupan. Ada kegagalan, salah paham, rahasia kecil, pertengkaran, tawa, dan kejadian-kejadian absurd yang tidak pernah masuk dalam rencana siapa pun. Tapi mungkin, memang seperti itulah keluarga. Tidak harus selalu sepakat. Tidak harus selalu mengerti. Yang penting, selalu ada alasan untuk kembali duduk bersama. Dan kalau suatu hari masalah datang lagi? Tentu saja jawabannya sudah disiapkan Pak Dwiko. "Untungnya apa?"