Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Tiga kali merajut asa, tiga kali pula takdir merenggutnya dengan cara yang paling telak.
Bagi Fathan, cinta adalah serangkaian ujian yang tak pernah lulus. Pertama, Jarak meruntuhkan kesetiaannya bersama Nisa, meninggalkan cincin tunangan yang tak pernah sampai di jari. Kedua, Waktu merampas kehangatannya dengan Varisha, ketika impian ke London menuntut perpisahan yang tak bisa ditawar. Ketiga, Keadaan menjelma menjadi benteng tak kasat mata saat silsilah keluarga masa lalu menghancurkan hubungannya dengan Chafia.
Terdampar dalam keputusasaan dan kelelahan emosional, Fathan menutup rapat pintu hatinya, mengira hidupnya telah kehabisan jatah bahagia.
Namun semesta punya cara misterius untuk merajut kembali serpihan luka. Di tengah keheningan hidupnya, takdir mempertemukannya kembali dengan Laila Shasmira—teman masa kecil yang kini menjadi seorang ustazah. Tanpa tuntutan duniawi atau bayang-bayang masa lalu, Laila hadir bukan untuk mengubah masa lalunya, melainkan menuntun Fathan pulang pada ketenangan yang selama ini ia cari.
Ketika cinta tak lagi tentang memiliki dengan tergesa, melainkan tentang menemukan dermaga di mana jiwa akhirnya berlabuh.