Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
"Ayo bermain denganku!" Kalimat itu selalu didengar Ardan di kamarnya. Kamar yang ditempatinya sejak awal masuk SMP sampai dia kuliah. Di kamar itu ada sebuah lukisan ayah dan anak. Ayah dan anak itu tersenyum. Di lukisan itu, ayahnya menggendong anaknya. Mata Ardan terpaku pada lukisan itu. Ardan mengerjap saat melihat anak yang tadinya tersenyum, perlahan senyuman di wajah anak laki-laki itu bergerak layaknya berbicara. "Ayo, bermain denganku!" Mata Ardan membulat. Tak hanya gerakan dari bibir anak dalam lukisan itu, tetapi Ardan dapat mendengar suara itu darinya. Ardan tersentak saat melihat senyuman dari anak laki-laki itu semakin lebar. Mata anak itu yang tadinya berbinar, berubah menjadi hitam. Ardan melihat ke arah ayahnya. Mata dan senyuman ayahnya juga berubah menjadi menyeramkan. Gangguan dari sosok penghuni lukisan ayah dan anak itu sering dialami Ardan. Teror itu mengubah perilaku Ardan. Suatu hari Aradan menemukan satu rahasia yang selama ini dipendam kedua orang tua tentang dirinya. Apakah rahasia itu? Apa hubungannya rahasia itu dengan gangguan dari sosok penunggu lukisan ayah dan anak yang sering dialaminya?