Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Empat remaja dengan kehidupan yang tampak berbeda, dipertemukan oleh sesuatu yang tidak mereka mengerti—perasaan kehilangan yang sama.
Alia selalu bermimpi menjadi koki seperti ibunya. Dapur adalah tempat yang seharusnya terasa seperti rumah. Tapi ingatannya yang sering hilang membuatnya ragu. . . bagaimana mungkin ia bisa mengikuti jejak seseorang jika bahkan ia sering lupa langkah-langkah sederhana?
Adit hidup dengan kemarahan yang tak pernah benar-benar reda. Sejak ibunya memilih pergi bersama orang lain, dia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Baginya, memaafkan terasa lebih sulit daripada membenci.
Irene memiliki segalanya—keluarga yang utuh, penuh tawa, dan terlihat sempurna dari luar. Namun entah kenapa, di tengah kehangatan itu, ia justru merasa paling sendirian. Seolah ada bagian dari dirinya yang hilang, tapi ia tak tahu apa. Maka dia terus mencari.
Lalu datang Davan. Anak baru yang pendiam, penuh teka-teki, dan hanya mengatakan satu hal saat ditanya tentang dirinya: sedang mencari rumah yang hilang.
Pertemuan mereka yang tak disengaja perlahan mengikat keempatnya dalam perjalanan yang lebih dalam dari sekadar persahabatan. Mereka mulai menyadari bahwa "rumah" bukan selalu tentang tempat, melainkan tentang orang, kenangan, dan keberanian untuk menghadapi luka yang selama ini mereka hindari.
Di antara rahasia, luka lama, dan harapan yang rapuh, mereka belajar satu hal: mungkin yang hilang bukan rumahnya—melainkan cara untuk kembali.