Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Asa Asia memandang tepat ke arah adiknya Eri Erika. "Hai, Eri. Ini saatnya untukmu." "Apa? Aku lagi?" Asa berpikir sembari mengusap dagunya. "Benar juga, tapi tidakkah kau ingat urutan yang diberikan oleh Kharis?" "Air, Angin, buku spin-off kegelapan maju, mundur, setelahnya akan ada buku tanah, dan api?" Bryan datang dan duduk tiba-tiba di sofa ruang tamu. "Itu artinya ini adalah kisah bagian tanah." Eri membelalak. "Yang benar saja. Aku bukan-" "Kak Asa bukan ranah tanah. Yang ranah tanah itu kau," potong Bryan. "Ta... tapi masih ada Asta, Paman, dan-" "Secara logisnya, Eri. Para pembaca belum mengenal mereka. Jadi kali ini kau tetap MC. Kita harus berbaik hati pada pembaca," ujar Kharis ikut menyela. Ia sebenarnya sudah di sana dari tadi sambil membaca buku tentang gunung berapi. "Kha... Kharis." "Oke, jadi buku kali ini adalah Tanah," putus Asa dengan senyuman lebar. "Tapi, Kak. Kemungkinan aku tidak kuat untuk setiap hari seperti waktu itu. Masa sekolahku banyak sekali tugasnya!" protes Eri terus terang pada Kakak laki-lakinya itu. Asa memandang Bryan. "Bry-" "Stop! Eri sendiri sudah menerima masa sekolahnya sebelum ini. Tidak ada intervensi. Paling tidak, berbaik hatilah untuk satu minggu dua atau tiga kali," ucap Bryan yang mendapat tatapan kosong dari Asa dan Eri. Asa menarik napas lelah lalu memandang Eri. "Oke, dua atau tiga minggu sekali. Setiap hari lebih bagus, sih sebenernya." "Jika aku lelah libur, ya. Juga, bisakah paling tidak ada yang membantuku menulis ini?" "Soal itu-" "Oke!" ucap Bryan keras-keras. "Bukunya adalah Tanah dengan jadwal tayang semampu Eri."