Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Semua orang gila, ekonomi juga sudah gila. Tak terkecuali anak perempuan dengan nama Tuna Ayu. Bagi dia, Bapaknya —Karmin, tak kalah jauh gila daripada dirinya yang setiap hari mengais recehan duit menggosok jamban dan digoda oleh para pedagang asongan di terminal, kalau lelaki tua itu menjual jiwa Ibunya —Sriyanti, dulu setelah melahirkannya.
Karmin bilang, Sriyanti gila karena dia sudah malas mencari sebuah pekerjaan saja di ekonomi memburuk seperti segumpal kencing anjing sekarang, dan dengan sintingnya ingin berleha-leha layaknya seorang bos. Tapi tidak menurut Ayu. Ada yang tidak pernah beres dari tatapan dan tangisan Sriyanti setiap menjelang malam. Terlebih kalau perempuan itu mendengar nama Darmo, seorang saudagar paling kaya di desanya muncul maka Sriyanti akan meraung seperti harimau.
Ayu mulai memupuk kebencian itu baik kepada Karmin maupun Darmo soal perilaku Sriyanti. Namun, apalah boleh dikata sehabis dia memutuskan untuk tidak bekerja menggosok jamban di terminal lagi, dia mendapatkan tawaran bekerja di salah satu toko grosir Darmo yang dipegang oleh sang anak, Rake. Hingga dari sana, Ayu mulai menemukan pecahan-pecahan alasan perilaku Sriyanti satu per satu dan perasaan rapuh yang tak disangkanya datang bagai badai yang berpadu.