Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Di Tumbang Lunuk, kemarau tahun ini datang dengan bau yang aneh.
Ayu, sebelas tahun, mencatat setiap batuk adiknya di buku tulis biru. Haji Samad, penjaga Rimba Bahalap, masih menuntun anak-anak menyusuri hutan untuk menunjukkan tujuh serpihan surga: sebuah pohon yang menyala oleh kunang-kunang, telaga yang tak pernah kering, seekor induk dan anaknya.
Lalu Rangga, relawan pemadam, tiba dengan kamera dan rahasia tentang ayahnya sendiri. Ia melihat apa yang tidak mau dilihat orang dewasa: api yang berbaris lurus seperti upacara.
Ketika api mengepung desa, seorang buruh harus memilih antara amplop tebal dan nuraninya, seorang pedagang terlalu lama diam, dan hutan menitipkan suaranya pada siapa pun yang masih sempat bernapas.
Enam serpihan sudah ada sebelum kita lahir. Yang ketujuh harus kita tanam.