Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Tidak semua anak perempuan tumbuh dengan kesempatan mengejar hidupnya sendiri. Sebagian dari mereka tumbuh terlalu cepat—karena keadaan. Di ambang usia kepala tiga, Andira menghabiskan hari-harinya di antara lorong rumah sakit, bau obat-obatan, dan suara mesin cuci darah yang seolah menjadi detak baru dalam hidupnya. Sejak ibunya divonis gagal ginjal kronis dan harus menjalani hemodialisa seumur hidup, ia tahu hidupnya tak akan lagi sama. Ia memilih berhenti bekerja. Menyingkirkan perlahan cita-cita yang dulu pernah ia bangun dengan susah payah. Bukan karena ia tidak punya mimpi, melainkan karena ada satu orang yang lebih ingin ia selamatkan daripada dirinya sendiri: ibunya. Hidup tidak pernah benar-benar memberi jeda bagi orang-orang yang bertahan. Di balik senyum yang selalu ia paksa terlihat kuat, ada perempuan yang perlahan kehilangan dirinya sendiri. Tentang pengorbanan yang tak pernah disebut heroik. Tentang cinta anak kepada ibu yang tidak meminta balasan apa pun. Dan tentang manusia-manusia yang tetap memilih bertahan, bahkan ketika hidup terasa terlalu berat untuk dipeluk. Merawat seseorang dalam waktu yang terlalu lama diam-diam mengikis manusia dari dalam. Tanpa disadari—yang ia rawat bukan hanya ibunya yang sakit, tapi juga dirinya sendiri yang semakin menghilang. Di tengah lelah yang tidak pernah selesai, Andira mulai mempertanyakan satu hal yang selama ini ia hindari: Jika semua orang punya kehidupan untuk dijalani. . . lalu hidup siapa yang sedang ia jalani sekarang? Dan ketika sebuah kesempatan datang—membuka kemungkinan untuk memilih dirinya sendiri—Andira dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah sederhana: tetap menjadi sekoci bagi orang lain, atau akhirnya belajar menyelamatkan dirinya sendiri. Karena tidak semua yang bertahan. . . benar-benar hidup.