Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Ratih Sanggabuana, seorang fotografer pemula, tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara dia mengingat ibunya. Tidak lebih dari ingatan seorang anak kecil yang melihat seorang perempuan mengakhiri hidup ketika usianya belum cukup untuk memahami apa arti kehilangan. Selebihnya adalah ruang kosong yang selama bertahun-tahun dirinya isi dengan kebencian.
Hingga seorang teman lama memintanya mengerjakan sebuah pameran fotografi berjudul Mitokondria, sebuah proyek yang mengeksplorasi proses kehidupan manusia dan warisan ingatan dari suara ibu yang mungkin tetap hidup bahkan setelah tubuhnya tiada. Selayaknya mitokondria itu sendiri.
Dalam proses mengumpulkan potret untuk pameran itu, Ratih mulai berhadapan dengan cerita tentang ibu dari berbagai sudut pandang dan menyaksikan bagaimana seorang ibu dapat tinggal begitu lama di dalam ingatan seseorang.
Perlahan, batas antara ingatan orang lain dan ingatannya sendiri mulai runtuh. Semakin keras dirinya mendorong sang ibu keluar dari kepalanya, semakin banyak jejaknya yang dia temukan di dalam hidupnya sendiri.
"Barangkali ternyata duka adalah buah tangan dari cinta."
Lantas, bagaimana cara Ratih menyusuri fragmen memori infantilnya untuk mencari sosok ibu yang bahkan belum sempat dia ingat dengan sempurna?