Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Pagi itu, udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Burung-burung berkicau di pepohonan yang mengelilingi sekolah. Andriani berjalan melewati gerbang sekolah sambil membawa tas yang sudah mulai usang. Meski begitu, wajahnya tetap dipenuhi semangat.
Di depan kelas, Bu Ratna sudah berdiri sambil membawa beberapa lembar pengumuman.
"Selamat pagi, anak-anak."
"Selamat pagi, Bu!" jawab seluruh siswa serempak.
Bu Ratna tersenyum.
"Hari ini Ibu membawa kabar baik. Bulan depan akan diadakan Lomba Karya Tulis Inspiratif Tingkat Kabupaten. Tema lombanya adalah Pendidikan sebagai Jalan Menuju Masa Depan. Siapa pun boleh ikut."
Suasana kelas langsung ramai.
Beberapa siswa tampak antusias, tetapi ada juga yang memilih diam.
Andriani membaca isi pengumuman itu dengan saksama. Di dalam hatinya muncul keinginan untuk mengikuti lomba tersebut. Sejak kecil ia senang membaca buku dan menulis cerita di buku catatan kecilnya. Namun, rasa ragu menghampirinya.
"Apa aku mampu bersaing dengan peserta dari sekolah lain?" pikirnya.
Saat bel istirahat berbunyi, Bima menghampiri Andriani.
"Kamu pasti ikut, kan?"
Andriani menghela napas.
"Aku ingin ikut... tapi aku takut hasilnya tidak bagus."
Bima tersenyum.
"Kalau tidak mencoba, kamu tidak akan pernah tahu kemampuanmu."
Ucapan itu membuat Andriani terdiam. Ia menyadari bahwa sering kali seseorang gagal bukan karena tidak mampu, melainkan karena takut memulai.
---
Sore harinya, setelah pulang sekolah, Andriani membantu ibunya menjemur pakaian dan menyiram tanaman.
Bu Sinta memperhatikan putrinya yang tampak lebih banyak diam.
"Ada apa, Nak?"
Andriani menceritakan tentang lomba menulis yang diadakan di sekolah.
"Aku ingin ikut, Bu. Tapi aku takut mengecewakan semua orang."
Bu Sinta tersenyum lembut.
"Nak, orang yang berani mencoba sudah menang melawan rasa takutnya. Menang atau kalah nanti adalah urusan belakangan."
Kalimat sederhana itu membuat hati Andriani terasa lebih tenang.
---
Malamnya, setelah semua pekerjaan selesai, Andriani membuka buku tulis kosong.
Ia menatap halaman pertama cukup lama.
Lalu perlahan ia mulai menulis.
Ia menulis tentang seorang anak yang tidak pernah menyerah belajar meski hidupnya sederhana.
Ia menulis tentang pentingnya pendidikan.
Ia menulis tentang harapan.
Tanpa terasa, malam semakin larut.
Pak Arif yang baru pulang dari bekerja melihat lampu kamar Andriani masih menyala.
"Ayah boleh masuk?"
"Tentu, Yah."
Pak Arif membaca beberapa paragraf yang ditulis putrinya.
Beliau tersenyum bangga.
"Tulisanmu sederhana, tetapi penuh hati."
Andriani menatap ayahnya.
"Menurut Ayah, apakah aku punya kesempatan untuk menang?"
Pak Arif duduk di sampingnya.
"Nak, tujuan belajar bukan hanya menjadi juara. Tujuan belajar adalah menjadi pribadi yang terus berkembang. Kalau nanti kamu menang, bersyukurlah. Kalau belum menang, kamu tetap mendapatkan pengalaman."
Andriani mengangguk pelan.
Malam itu, ia kembali menulis dengan semangat baru.
---
Beberapa hari kemudian, Bu Ratna mengumpulkan peserta lomba.
Beliau membaca tulisan setiap siswa dengan teliti.
Ketika membaca karya Andriani, Bu Ratna berhenti sejenak.
Beliau tersenyum.
"Bagus sekali."
Andriani terkejut.
"Benarkah, Bu?"
"Ya. Masih ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki, tetapi tulisanmu mampu menyentuh perasaan pembaca."
Mata Andriani berbinar.
Untuk pertama kalinya, ia mulai percaya bahwa kemampuannya bisa berkembang jika terus diasah.
Sebelum pulang, Bu Ratna berkata kepada seluruh peserta,
> "Ingatlah, anak-anak. Kesempatan tidak datang untuk mencari orang yang paling sempurna. Kesempatan datang kepada mereka yang berani mempersiapkan diri."
Kalimat itu terus terngiang di benak Andriani sepanjang perjalanan pulang.
Ia sadar bahwa kesempatan bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, melainkan sesuatu yang harus dijemput dengan usaha dan keberanian.
Malam itu, ia kembali membuka buku catatannya dan menuliskan satu kalimat:
"Hari ini aku belajar bahwa keberanian adalah langkah pertama menuju impian."
---
**Pesan
Tokoh Utama
Mutiara andriani
Chapter belum tersedia
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Kamu harus masuk terlebih dahulu untuk mengirimkan ulasan, Masuk