Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Bagaimana jika ancaman terbesar bagi manusia bukanlah perang, bencana, atau teknologi, melainkan hilangnya kemampuan untuk peduli kepada sesamanya?
Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia adalah novel yang mengangkat tema "Cerita Rumah Kita", sebuah refleksi tentang rumah yang sesungguhnya. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga bumi yang kita huni, lingkungan yang kita jaga, dan hubungan antarmanusia yang memberi makna pada kehidupan.
Di tengah dunia yang terus bergerak maju, manusia semakin sibuk mengejar ambisi, prestasi, dan kenyamanan. Namun tanpa disadari, mereka mulai kehilangan kemampuan untuk mendengar, memahami, dan merasakan apa yang dialami orang lain. Hubungan yang dahulu hangat perlahan menjadi renggang, sementara empati semakin sulit ditemukan.
Melalui perjalanan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, novel ini menggambarkan bagaimana kesibukan, ego, dan ketidakpedulian dapat membuat "rumah bersama" menjadi tempat yang asing bagi penghuninya sendiri. Namun di balik semua itu, masih ada harapan yang tumbuh dari tindakan-tindakan sederhana: mendengarkan, menolong, dan saling menjaga.
Novel ini mengajak pembaca untuk kembali mengingat bahwa rumah yang paling penting bukanlah bangunan yang kita tempati, melainkan kemanusiaan yang kita rawat bersama. Karena ketika empati hilang, rumah kita pun perlahan kehilangan maknanya.