Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
"Karena jarak paling jauh bukanlah antar benua, melainkan saat kita duduk berdampingan tanpa bisa saling bicara." Di rumah yang harusnya menjadi tempat paling hangat, Aluna justru merasa kedinginan. Ibunya ada di sana—hanya berjarak satu meter, duduk di kursi sofa yang sama, atau berdiri di balik meja makan yang sama. Namun, bagi Aluna, sang Ibu terasa lebih jauh dari bintang paling terpencil di galaksi. Sejak kepergian Ayah, rumah mereka berubah menjadi museum kesunyian. Tidak ada pelukan, tidak ada pujian, bahkan tidak ada tanya tentang bagaimana hari yang Aluna lalui. Ibunya menjadi sosok asing yang hanya berkomunikasi lewat transferan uang dan piring nasi di atas meja. Tumbuh dengan hati yang lapar akan afeksi, Aluna belajar membangun dindingnya sendiri. Ia memutuskan untuk pergi, menjauh sesegera mungkin dari radius satu meter yang menyesakkan itu. Namun, ketika sebuah rahasia dari masa lalu perlahan terkuak, Aluna menyadari bahwa ibunya bukan sekadar "dingin"—beliau adalah seorang wanita yang hancur, yang lupa cara menyembuhkan dirinya sendiri. Akankah Aluna terus berlari, atau ia akan mencoba menyeberangi jarak satu meter itu untuk terakhir kalinya sebelum semuanya benar-benar terlambat?