Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Pagi itu langit terlihat begitu cerah. Cahaya matahari perlahan menembus celah-celah pepohonan di sepanjang jalan. Udara masih terasa sejuk, sementara suara kendaraan mulai terdengar memenuhi jalanan. Di sebuah kota kecil yang sederhana, seorang gadis bernama Evi Syafitri sedang berjalan sendirian menuju sebuah toko tempat ia bekerja. Evi adalah perempuan sederhana yang memiliki senyum manis dan hati yang lembut. Ia tidak pernah merasa dirinya istimewa. Baginya, hidup adalah tentang bekerja keras, menjaga keluarga, dan berusaha menjadi manusia yang berguna. Sejak kecil, Evi sudah terbiasa dengan kehidupan yang tidak mudah. Ia memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari banyaknya uang. Kadang-kadang kebahagiaan justru hadir dari hal-hal sederhana: makan bersama keluarga, mendengar tawa orang tua, atau mendapatkan kabar dari seseorang yang kita sayangi. Namun, ada satu hal yang belum pernah Evi rasakan. Cinta. Bukan karena tidak ada laki-laki yang mendekatinya, tetapi Evi selalu berhati-hati. Ia tidak ingin memberikan hatinya kepada seseorang yang hanya datang untuk sementara. Dalam hati kecilnya, Evi selalu berkata,