Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Blurb — Santri di Borneo: Dari Cinta Menuju Peradaban Raka Wijaya mengira ia sudah tahu segalanya tentang istrinya. Aisyah, santri sederhana yang ia nikahi dengan sepenuh hati, yang bersamanya ia mulai membangun rumah tangga dari kontrakan kecil di Tulungagung—jauh dari gemerlap, jauh dari kemewahan. Sampai sepucuk surat dari Kalimantan datang, dan membongkar rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat: Aisyah bukan sekadar santri. Ia Nurul Aisyah Al-Banjari, putri keluarga saudagar dan pemilik tambang batu bara terbesar di Martapura—yang memilih menghilang demi dicintai apa adanya, bukan karena nama besar keluarganya. Kini, mereka berdua pulang ke Borneo. Bukan untuk mengklaim warisan, tapi untuk mewujudkan mimpi yang lebih besar: mendirikan pesantren di atas tanah keluarga yang selama ini terlantar, agar anak-anak Kalimantan tak perlu lagi merantau jauh ke Jawa demi menuntut ilmu agama. Namun jalan pulang tak pernah semudah itu. Adat yang harus dihormati, keluarga yang harus diyakinkan, dan satu sosok yang menyimpan tatapan penuh perhitungan sejak hari pertama Raka menginjakkan kaki di tanah Borneo. Dari cinta yang diridhai, lahir perjuangan yang abadi—untuk ilmu, umat, dan negeri.