Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
"Kebahagiaan yang selalu aku tanyakan, ternyata tergantung pada rasa syukur yang aku panjatkan." —Mayang Eira Calista
"Banyak-banyaklah bersyukur, karena kebahagiaanmu diukur dari banyaknya kamu bersyukur." —Abyan Putra Rajendra
"Hidup itu bukan hanya tentang bagaimana kita masih bisa bernapas, tapi juga tentang bagaimana kita menghabiskan waktu ketika masih bernapas." —Gunawan Iskandar
***
Ini tentang Aby dan Maya yang terpaksa harus menikah diusia muda. Tepatnya di penghujung masa SMA, karena kejadian salah paham yang menimpa mereka. Semuanya terjadi begitu saja, mereka kepergok tidur bersama di kamar Maya.
Menikah muda tidak pernah terlintas di pikiran Aby sebelumnya. Nyatanya, menjadi kepala keluarga dengan status masih SMA tidaklah mudah baginya. Aby belum mempunyai bekal apa-apa untuk membina rumah tangga.
Begitu juga dengan Maya, menikah adalah hal paling akhir yang tertulis dalam rencananya. Bahkan, ia tidak pernah berencana untuk menikah sebelumnya, mengingat kegagalan rumah tangga antara kedua orang tuanya, membuat Maya mengesampingkan pernikahan. Namun, siapa sangka? Apa yang paling akhir ia rencanakan, malah itu yang lebih dulu menyapanya.
Setelah kejadian itu, tentu hidup keduanya benar-benar berubah. Banyak hal yang harus mereka lewati berdua, melanjutkan hidup tanpa bimbingan orang tua, dan jauh dari orang-orang terdekatnya.
Keduanya terluka, sama-sama kehilangan rumah tempatnya pulang. Jika rumah Maya sudah hancur jauh lebih lama sebelum kejadian itu, berbeda dengan Aby yang dipaksa pergi karena tidak dipercaya lagi.
"Lo bisa percaya sama gue, kan, May?"
"Percaya apa?" tanya Maya tak mengerti.
"Mungkin kehidupan kita akan lebih sulit ke depannya, apalagi dengan status kita yang suami istri dan juga pelajar. Orang akan menilai kita dengan sebelah mata, kalau tau. Tapi, apa pun yang akan terjadi nanti, gue akan berusaha untuk terus jagain lo. Berusaha untuk membuat lo tetap baik-baik aja bersama gue. Untuk itu, gue tanya. Apa lo bisa percaya sama gue?"
"Gue bisa percaya, selagi lo nggak tinggalin gue. Gue takut sendiri, By."
"Lo nggak akan pernah sendiri, gue nggak akan tinggalin lo."
Pada saat itu, semuanya dimulai.
Mampukah mereka menjalani hari-hari terberatnya? Apalagi, ketika tahu Maya hamil. Apakah Aby dan Maya bisa menerimanya?