Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Yang datang ke aku selalu orang yang capek. Malam itu, yang datang cuma tiga orang dengan tiga kardus dan satu koper. Seorang kakak yang udah lama lupa caranya jadi anak kecil. Seorang adik yang kekecilan buat melawan. Seorang ayah yang diam-diam pengen kabur dari kegagalannya sendiri.
Aku kasih mereka rumah yang hangat. Ada kamar yang aku pilihkan sendiri buat masing-masing. Kamar boneka. Kamar es. Kamar layang-layang. Kamar ketapel. Kamar kertas lipat. Aku belum bisa sebut apa aja kekuatannya. Yang jelas, kekuatan dari kamar itu lahir persis dari cara mereka lari dari luka.
Yang nggak aku bilang: setiap kekuatan ada harganya. Dan aku selalu menghisap pelan-pelan sepotong demi sepotong kenangan di sini. Sampai yang tersisa cuma keluarga yang kelihatan baik-baik saja dari luar, tapi kosong kalau diintip ke dalam.
Aku pernah punya penghuni lain sebelum mereka. Keluarga paling harmonis. Nggak pernah berantem. Selalu tenang. Kalau kamu tanya aku, itu bukan kebahagiaan. Itu yang terjadi kalau sebuah keluarga lupa alasan untuk peduli satu sama lain.
Rindu yang pertama sadar sesuatu hilang tiap kali dia membekukan waktu. Tapi menyadari itu tidak sama dengan berhenti menggunakannya.
Pertanyaannya bukan apakah rumah ini jahat?
Pertanyaannya: seberapa banyak dirimu sendiri yang rela kamu lupakan, demi berhenti merasa sakit?