Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Bumi menangis, Sindhu bergolak. Di antara amukan teknologi terlarang dan dendam roh alam, seorang Penyelaras berdiri menanggung dosa peradaban. Kerusakan ekosistem di dunia nyata bukan sekadar bencana fisik—ia adalah rintihan luka mendalam bagi dimensi Sindhu, alam tempat tinggal para Danyang dan Hyang penjaga Nusantara. Di balik penderitaan planet ini, Konsorsium Nir-Atma di bawah pimpinan Vance Sterling dan Dr. Arisandi melancarkan operasi rahasia untuk menguasai Jaringan Nodus Nusantara (Sumbu Tribuana). Menggunakan mata bor plasma, pasak siber, dan drone asam terdistilasi mantra, mereka memanen esensi Prana kehidupan demi baterai energi berdaya tinggi. Dampak eksploitasi ini memicu amarah purba. Dari kuncup Pranavija di Hulu Subang, keangkuan tebing Salak, letupan belerang Kawah Dieng, hingga kedalaman abisal Palung Laut Selatan, para Danyang yang tersiksa bangkit mengancam kemusnahan massal bagi spesies manusia. Banyu dan Laras, melangkah ke medan pertempuran bukan untuk membunuh, melainkan menyembuhkan. Dengan menyerap limbah racun dan dendam para roh alam ke dalam tubuh fisiknya sendiri, raga Banyu terukir oleh Pasak Karma—stigmata keemasan abadi yang menjadi lambang pertaubatan murni manusia. Sanggupkah Banyu dan Laras memutus rantai keserakahan siber-ghaib, merangkul kembali para Danyang dalam rasa empati mutlak, dan mengikrarkan Sumpah Tribuana demi terciptanya tatanan baru: harmoni abadi antara peradaban manusia dan roh alam?