Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Dunia ini percaya bahwa kekuatan harus diraih melalui perjuangan. Caelis Ward membuktikan keyakinan itu salah hanya dengan cara ia ada. Setelah meninggal dengan tenang di kehidupan asalnya, Caelis bereinkarnasi ke sebuah dunia fantasy, bukan melalui takdir, bukan melalui ramalan, bukan melalui penghakiman ilahi, melainkan karena seorang dewi yang bosan memilihnya sebagai anomali yang layak untuk diamati. Ia terbangun dalam kondisi yang sudah sempurna sejak awal, tanpa pertumbuhan, tanpa batas, tanpa sistem, tanpa kebutuhan untuk bereskalasi. Ia tidak mencari konflik. Ia tidak mengumumkan kekuatannya. Ia tidak menyelamatkan dunia. Masalah berakhir ketika masalah itu bersinggungan dengannya. Kekerasan runtuh sebelum sempat dimulai. Sistem gagal tanpa mengetahui alasannya. Di sisinya adalah Fera Linholt, seorang perempuan yang praktis dan membumi, tanpa kekuatan istimewa, tanpa kesadaran akan kebenaran di balik Caelis. Ia bukan beban yang perlu dilindungi, bukan pula pahlawan yang terpilih. Ia bertahan karena Caelis menyelesaikan kebisingan, dan ia memilih untuk hidup secara normal di dalam ketenangan yang mengikutinya. Mengamati dari kejauhan adalah Lunessa, Sang Dewi Pemalas. Ia tidak membimbing. Ia tidak ikut campur. Ia jarang berbicara. Ketertarikannya bukan pada kepahlawanan, melainkan pada pengamatan tentang apa yang terjadi ketika sebuah dunia yang terobsesi dengan eskalasi bertemu dengan sesuatu yang menolak untuk ikut serta. Ini bukan cerita tentang menjadi kuat. Ini adalah cerita tentang mengakhiri hal-hal yang tidak perlu ada. Dominasi tidak mengumumkan dirinya sendiri.