Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Jaja Sunarya 0 0 Deskripsi MATAHARI telah terbenam di ufuk barat, meninggalkan rantai-rantai keserakahan mahluk bumi. Angin malam yang sejuk mulai berhembus, membawa aroma kepedihan makhluk bumi yang tertindas. Sementara itu, dari ufuk timur, bulan purnama yang bercahaya lembut mulai naik, menerangi langit dan menghidupkan kembali cahaya di bumi. Di bawah sinar rembulan yang lembut, di atas Bukit Cipariuk Sodonghilir, tampak seorang pemuda tanggung sekitar umur tujuh belas tahunan sedang duduk bersila, si pemuda itu berkulit kuning Langsat, berambut hitam mengkilat dengan panjang sebahu dan menggunakan pakaian pangsi berwarna hitam dan ikat kepala berwarna hitam pula. Mata si pemuda tampak terpejam dan bibirnya komat-kamit, sepertinya ia sedang merapal mantra, walau pelan tapi mantra yang dirapalkan si pemuda bisa terdengar jelas.
"Hurung nangtung ngadeg cahaya, ari diuk ngumbar cahaya, nyangigir nalinga Malik disamak cahaya dikampuh bayu, sungkelang naga wangkelang dibaju ratu kateguhan, batuk isun jadi gugur awak aing jadi gelap, iket-iket naga mulut nakiceup jadi sabumi, ari cicing Indung gunung ombakna barat sajagat, moal aing teu sirna dikurung ku langit dikandang ku jagat, les ngiles.
Si pemuda terus mengulang-ngulang rapalan mantranya, dan anehnya pada rapalan terakhir yang kesekian kali dibacanya itu, tubuh si pemuda mendadak menghilang seperti ditelan bumi.
"Rawa! Rawaa!!" terdengar suara parau seperti suara kakek-kakek memanggil.
*Iya Kek!" sahut si pemuda yang sedang merapal mantra, ternyata walau sekarang tubuhnya tidak terlihat, tapi sebenarnya dia masih berada di tempat duduknya dan masih terus merapal matra. Si pemuda yang ternyata bernama Rawa itu tampak merapal sesuatu yang berbeda dari yang tadi dia rapal, aneh, seketika itu juga tubuhnya bisa terlihat kembali, dia lalu berdiri dan segera melesat ke arah suara, yang ternyata dari sebuah gubuk kayu di tengah-tengah bukit.