Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Di sebuah kampung yang tenang, rumah keluarga Arga tampak seperti keluarga yang sempurna. Senyum selalu menghiasi wajah mereka saat bertemu tetangga. Namun, di balik pintu rumah itu, tersimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Ranjang di kamar utama bukan hanya tempat beristirahat. Ia menjadi saksi bisu pertengkaran, air mata, janji yang diingkari, dan harapan yang perlahan memudar.
Arga bekerja keras demi keluarganya. Pagi berangkat sebelum matahari terbit, malam baru kembali ketika anak-anak sudah tertidur. Ia percaya semua pengorbanannya akan membuat keluarganya bahagia.
Sementara itu, istrinya, Maya, mulai merasa kesepian. Hari-harinya dipenuhi rutinitas yang sama. Komunikasi dengan Arga semakin renggang. Kata-kata manis berubah menjadi percakapan singkat yang terasa hambar.
Suatu sore, hadir seseorang dari masa lalu Maya. Pertemuan yang awalnya hanya sebuah kebetulan perlahan membangkitkan kenangan yang selama ini terkubur. Maya berusaha mengabaikannya, tetapi hatinya mulai dipenuhi kebimbangan.
Di sisi lain, Arga sama sekali tidak menyadari badai yang sedang mendekati rumah tangganya. Ia justru sibuk mengejar target pekerjaan demi masa depan keluarga.
Takdir mulai memainkan perannya. Sebuah pesan singkat yang salah kirim menjadi awal dari terbongkarnya rahasia besar yang akan mengguncang kehidupan mereka.
Malam itu, Arga berdiri di depan pintu kamar dengan tangan gemetar. Ia menarik napas panjang sebelum memutar gagang pintu.
Apa yang dilihatnya malam itu mengubah hidupnya untuk selamanya.
Dan sejak saat itu, kehidupan mereka benar-benar mengalami "naik turun ranjang"—bukan sekadar tentang cinta, melainkan tentang kepercayaan, pengkhianatan, pengampunan, dan perjuangan mempertahankan keluarga yang hampir hancur.
Tangan Arga masih gemetar saat perlahan membuka pintu kamar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga napasnya terasa sesak.
Di dalam kamar, Maya sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya. Wajahnya terlihat terkejut ketika melihat Arga berdiri di ambang pintu.
"Ayah... kok pulang lebih cepat?" tanyanya gugup.
Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada sebuah tas pria yang terletak di sudut kamar.
"Itu tas siapa?" suaranya terdengar pelan, tetapi penuh tekanan.
Maya menoleh ke arah tas itu. Wajahnya semakin pucat.
"Itu... itu milik Roni. Tadi dia hanya mengantar berkas yang tertinggal."
Belum sempat Arga menjawab, terdengar suara langkah kaki dari arah dapur.
Seorang pria keluar sambil membawa dua gelas teh hangat. Begitu melihat Arga, langkahnya terhenti. Wajahnya berubah tegang.
"Maaf, Pak Arga... saya cuma mampir sebentar," ucap Roni berusaha tenang.
Ruangan mendadak sunyi. Hanya suara kipas angin yang terdengar berputar pelan.
Arga menatap keduanya bergantian. Ia ingin marah, tetapi memilih menahan diri.
"Kalau memang hanya mengantar berkas, kenapa harus masuk sampai ke kamar?" tanyanya.
Pertanyaan itu membuat Maya menundukkan kepala. Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya.
Roni segera mengambil tasnya.
"Saya pamit dulu."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat meninggalkan rumah.
Setelah pintu tertutup, Arga dan Maya masih berdiri saling berhadapan. Jarak di antara mereka terasa begitu jauh meski hanya beberapa langkah.
"Aku hanya ingin mendengar kejujuran," kata Arga lirih.
Air mata mulai mengalir di pipi Maya.
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu. Tapi akhir-akhir ini kita seperti hidup sendiri-sendiri. Kita tinggal serumah, tetapi hati kita terasa berjauhan."
Arga menghela napas panjang. Kata-kata itu menusuk hatinya. Ia sadar kesibukan telah membuatnya semakin jarang hadir untuk keluarga.
Namun, pertanyaan tentang Roni masih belum terjawab.
Malam itu, keduanya duduk dalam diam. Tak ada pertengkaran, hanya keheningan yang terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.
Di luar rumah, hujan mulai turun membasahi halaman.
Sementara itu, di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari rumah, Roni menatap layar ponselnya. Sebuah pesan masuk membuat wajahnya berubah tegang.
"Rahasia itu jangan sampai terbongkar. Kalau Arga tahu semuanya, hidup kita akan hancur."
Roni memejamkan mata. Ia sadar, badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
Pagi datang bersama udara yang dingin setelah hujan semalam. Namun, di dalam rumah Arga, suasana masih terasa membeku. Tidak ada percakapan saat sarapan. Hanya suara sendok yang sesekali menyentuh piring.
Arga berangkat bekerja lebih awal tanpa banyak bicara. Sebelum keluar, ia hanya menoleh sekilas kepada Maya.
"Aku berharap nanti malam kita bisa bicara dengan jujur," katanya pelan.
Maya mengangguk, tetapi hatinya dipenuhi kegelisahan.
Tak lama setelah Arga pergi, ponsel Maya berdering. Nama Roni muncul di layar.
"Maya, kita harus bertemu. Ada sesuatu yang penting," ucap Roni dengan nada cemas.
"Aku tidak mau bertemu lagi. Semalam sudah cukup membuat semuanya berantakan."
"Kalau kita tidak menjelaskan yang sebenarnya, Arga akan mengetahui semuanya dari orang lain."
Maya menutup telepon. Tangannya gemetar. Ia tahu rahasia yang mereka simpan selama bertahun-tahun tidak mungkin terus disembunyikan.
Sore harinya, Arga pulang lebih cepat. Ia melihat sebuah amplop cokelat terselip di bawah pintu rumah.
Tanpa nama pengirim.
Dengan rasa penasaran, ia membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar fotokopi dokumen lama dan sebuah surat singkat.
"Carilah kebenaran sebelum semuanya terlambat. Tidak semua yang kamu lihat adalah seperti yang kamu bayangkan."
Arga membaca dokumen itu berulang kali. Wajahnya berubah serius. Ternyata dokumen tersebut berkaitan dengan sebuah peristiwa bertahun-tahun lalu yang melibatkan keluarganya dan juga Roni.
Malam itu, Arga memanggil Maya ke ruang tamu.
"Aku menemukan sesuatu," katanya sambil meletakkan amplop di atas meja.
Maya memandang isi amplop itu. Wajahnya langsung pucat.
"Aku ingin mendengar semuanya. Tidak ada lagi kebohongan."
Maya menarik napas panjang. Air mata mulai mengalir.
"Aku akan menceritakan semuanya. Tapi setelah kau mendengarnya, mungkin hidup kita tidak akan pernah sama lagi."
Arga terdiam. Ia mempersiapkan diri untuk mendengar kenyataan yang selama ini tersembunyi.
Di luar rumah, seseorang berdiri dalam gelap, mengawasi dari balik pagar. Sosok itu kemudian berbalik dan menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Rahasia yang selama ini terkubur perlahan mulai muncul ke permukaan, membawa konsekuensi yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.
Malam semakin larut. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul sebelas tepat. Hujan yang sejak sore turun perlahan mulai reda, menyisakan suara tetesan air dari ujung atap rumah. Lampu ruang tamu yang redup membuat suasana terasa semakin sunyi.
Arga masih duduk di sofa sambil memandangi amplop cokelat yang tergeletak di atas meja. Dokumen-dokumen di dalamnya sudah ia baca berkali-kali, tetapi pikirannya justru semakin dipenuhi pertanyaan.
Di hadapannya, Maya duduk dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya saling menggenggam erat. Sesekali ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia simpan rapat.
"Aku tidak ingin ada lagi kebohongan," ucap Arga pelan. "Apa pun yang sebenarnya terjadi, lebih baik aku mendengarnya darimu daripada dari orang lain."
Maya mengangkat wajahnya. Matanya sembap karena menahan tangis.
"Aku tahu aku salah karena menyimpan semua ini begitu lama. Tapi aku melakukannya bukan karena ingin menghancurkan keluarga kita."
Arga tetap diam, memberi kesempatan Maya berbicara.
"Beberapa tahun sebelum kita menikah, aku pernah bekerja di sebuah perusahaan kecil. Di sanalah aku mengenal Roni. Kami hanya rekan kerja. Saat itu, ayahku sedang sakit keras dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar."
Suara Maya mulai bergetar.
"Aku meminjam uang kepada beberapa orang, termasuk Roni. Dia membantuku tanpa meminta imbalan apa pun. Aku selalu berniat mengembalikan semua pinjaman itu."
Arga mendengarkan tanpa memotong.
"Setelah kita menikah, aku ingin melupakan masa lalu dan fokus membangun keluarga. Sebagian utang sudah lunas, tetapi masih ada beberapa dokumen yang belum selesai. Roni beberapa kali datang hanya untuk menyelesaikan urusan administrasi. Aku takut kalau aku bercerita kepadamu sejak awal, kamu akan salah paham."
Arga memejamkan mata. Penjelasan itu membuat hatinya sedikit lega, tetapi masih ada banyak bagian yang belum ia mengerti.
"Kalau memang hanya soal utang, kenapa ada orang yang mengirim dokumen ini secara diam-diam?"
Maya menggeleng pelan.
"Itulah yang juga membuatku takut."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, ponsel Arga berdering. Nomor yang muncul tidak dikenal.
Dengan ragu, ia mengangkat telepon.
"Kalau ingin tahu siapa yang mengirim amplop itu, datanglah ke taman kota besok pagi pukul delapan. Datang sendiri."
Sambungan langsung terputus.
Arga mencoba menelepon kembali, tetapi nomor itu sudah tidak aktif.
Maya memandang wajah suaminya dengan cemas.
"Siapa?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu."
Keesokan paginya, langit tampak cerah seolah tidak pernah turun hujan semalam. Arga datang ke taman kota sesuai pesan yang diterimanya.
Ia duduk di sebuah bangku di bawah pohon besar. Orang-orang berlalu-lalang berolahraga tanpa menyadari kegelisahan yang sedang ia rasakan.
Beberapa menit kemudian, seorang pria tua menghampirinya.
"Apakah kamu Arga?"
"Iya."
Pria itu menyerahkan sebuah map berwarna biru.
"Ini titipan seseorang yang sudah lama ingin mengatakan kebenaran. Setelah ini tugasku selesai."
Sebelum Arga sempat bertanya lebih jauh, pria itu pergi begitu saja.
Dengan tangan gemetar, Arga membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat surat-surat lama, bukti pembayaran utang, serta sebuah foto yang memperlihatkan Maya, Roni, dan beberapa orang lain sedang mengikuti kegiatan sosial bertahun-tahun lalu.
Di balik foto itu tertulis sebuah kalimat singkat.
"Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat. Kebenaran selalu memiliki dua sisi."
Arga menarik napas panjang. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami bahwa selama ini ia terlalu cepat menyimpulkan keadaan.
Namun, saat hendak menutup map itu, sebuah amplop kecil terjatuh.
Isinya hanya selembar kertas.
"Hati-hati. Ada orang yang sengaja ingin menghancurkan keluargamu demi menutupi kesalahannya sendiri."
Jantung Arga kembali berdebar. Ternyata masalah yang dihadapinya bukan sekadar kesalahpahaman antara suami dan istri. Ada seseorang yang dengan sengaja memainkan keadaan agar keluarga mereka hancur.
Di rumah, Maya menunggu dengan perasaan gelisah. Ia terus berdoa agar semua persoalan segera menemukan jalan keluarnya.
Sementara itu, di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari rumah mereka, seorang pria bertopi hitam memperhatikan rumah Arga dari kejauhan.
Ia tersenyum tipis sambil berkata pelan, "Permainan baru saja dimulai. Mereka belum tahu siapa dalang sebenarnya."
Pria itu kemudian berdiri, meninggalkan secangkir kopi yang belum habis, lalu menghilang di antara keramaian.
Tanpa disadari Arga dan Maya, perjalanan mereka untuk mengungkap kebenaran masih sangat panjang. Setiap jawaban justru membuka rahasia baru, dan setiap langkah membawa mereka semakin dekat kepada sosok yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang.