Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Menjadi anak pertama bukan sekadar urutan kelahiran, melainkan takdir yang memaksa bahu muda menopang seluruh dunia. Sejak kepergian sang ayah, Raina melepas mimpinya, menukar masa mudanya dengan kerja keras, dan menganggap kewajiban sebagai jalan hidupnya. Ia rela berpeluh dari pagi hingga malam, demi memastikan ibunya tidak kekurangan dan adik-adiknya tetap bisa bersekolah. Namun, pengorbanan sebesar apa pun tak pernah cukup di mata orang-orang di sekelilingnya. Setiap langkah pulang yang lelah, ia disambut bukan dengan senyum, melainkan keluhan panjang ibunya yang tak pernah puas selalu membandingkan, selalu menyalahkan, seolah segala kesusahan adalah salah Raina. Di luar rumah, tak kalah perih: tetangga yang bergunjing, saudara yang mencibir, dan kata-kata tajam yang mempertanyakan masa depannya, seolah ia tidak pernah berjuang sama sekali. Raina hanya bisa diam. Menelan sesak, menyembunyikan air mata di balik punggung yang ia coba tegakkan. Badannya lelah, namun batinnya jauh lebih remuk. Ia bertahan bukan karena ia kuat, tapi karena ia tak punya tempat untuk pulang selain rumah itu. Sampai kapan bahunya sanggup menahan beban yang kian hari kian berat? Dan apakah suatu saat, pengorbanan besar ini akan dilihat, atau ia akan hancur diam-diam sebelum sempat dihargai?