Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Di Jakarta yang segala harga makin mahal untuk hidup, keempat perempuan ini berbagi ruang—sebuah kontrakan empat kamar yang tak semata tempat untuk tidur dan beristirahat, tapi juga sebuah medan tempur. Cerita ini tidak berfokus pada perubahan nasib instan, melainkan pada daya juang masing-masing menghadapi hari-hari yang makin menindas kewarasan mereka. Bianglala adalah perempuan paling muda di antara semuanya, ia mulai didatangi debt collector pinjol ke kontrakan, ketenangan mereka langsung goyah. Masalah Bianglala memicu gesekan: Rarajati yang mulai menghakimi secara moral, Ale yang merasa privasinya terganggu karena ia sendiri sedang menyembunyikan selingkuhannya, dan Deanara yang terpaksa harus membagi sisa uang makannya yang tinggal sedikit untuk dikirimkan ke anak asuh dari kakaknya yang tak bertanggung jawab dan sang ibu di kampung. Kisah ini menyorot, bagaimana kemiskinan di Jakarta bukan hanya soal tidak memiliki uang, tapi soal hilangnya hak atas waktu, kesehatan mental, dan martabat sebagai manusia. Mereka saling membenci, tetapi sekaligus saling menguatkan sebagai sesama perempuan yang pada akhirnya selalu jadi korban.