Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Bugh!! "Puas?!.. puas kamu merusak masa depanmu ?!"
Bugh!! "Pukulan ini tidak ada apa-apanya di bandingkan rasa kecewaku, Nak," desis Raden Dirgantara
Pukulan kesekian kalinya terhenti di udara, tepat di depan sudut bibir puteranya yang telah lebam dan berdarah. Nafasnya memburu, tangan nya bergetar menahan amarah. Raven menyeka darah dari sudut bibirnya.
Raden Dirgantara. Menolak runtuh di hadapan putranya. Ia berbalik cepat, bergegas pergi menuju ruang sunyi untuk meledakkan amarah yang sesak di dada.
Lahir sebagai generasi keempat dalam keluarga abdi negara adalah sebuah anugerah sekaligus beban berat bagi Raven Marsekal Dirgantara. Kepergian ibu untuk selama lamanya membuat Raven menjadi terjerumus ke dalam dunia yang penuh kebebasan sebagai cara mengatasi kesedihan.
Dari sudut pandang luar, Raven nyaris sempurna: ia tampan, putra seorang jenderal sekaligus memiliki aset bangunan(apartemen) dan kaya raya. Namun, didikan keras yang minim kehangatan emosional membentuk Raven menjadi pemuda yang dingin, arogan, dan keras kepala.
Raven menikmati kebebasan tanpa batas, menjalani gaya hidup yang mengabaikan norma. Namun, roda nasib berputar, kesenangannya justru menjeratnya dalam lingkaran permusuhan.
Imbasnya, hubungan Raven dengan keluarga menjadi renggang dan terasa asing. Meski ia tetap diberi kehidupan yang layak secara materi.
Apakah pilihan Raven selama ini salah ? Ataukah ini sekadar konsekuensi dari pencarian jati diri?
Kini, Raven berada di persimpangan jalan hingga menemukan seseorang yang membuka hatinya dan membuat nya menjadi berfikir.
Di tengah ketidakpastian dan konflik batin ini, kemana selanjutnya Raven akan melangkah?
Apakah ia akan bangkit, atau justru semakin terpuruk?