Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Bagi Arka, presisi adalah segalanya. Sebagai arsitek di Jakarta, ia terbiasa mengukur dunia lewat sudut siku-siku dan kalkulasi beton yang dingin—benteng teraman untuk melarikan diri dari masa lalu dan sesahutan gergaji di bengkel kayu ayahnya.
Namun, benteng itu runtuh saat panggilan telepon dari Kirana memaksanya pulang. Ayah mereka, seorang mantan perajin kayu jempolan, perlahan kehilangan ingatan akibat demensia.
Kembali ke rumah masa kecilnya di pesisir, Arka berhadapan dengan Kirana yang menyimpan dendam sunyi setelah bertahun-tahun memikul beban sendirian, serta Pak Hendra yang terperangkap dalam lorong waktu acak—kadang menyambut Arka sebagai anak sekolah, lalu detik berikutnya menatapnya curiga sebagai orang asing.
Di antara tawa di meja makan tua yang bisa sirna dalam hitungan detik dan sebuah lemari jati setengah jadi yang tertunda belasan tahun di bengkel belakang, Arka mendapati bahwa retakan terbesar dalam hidupnya bukan terjadi pada bangunan yang ia rancang, melainkan pada keheningan keluarga yang dibiarkan menumpuk.
Sebuah kisah emosional tentang tawa yang tersisa, jarak yang terbentang di antara mereka yang terikat darah, dan keberanian untuk meruntuhkan gengsi demi menemukan arti "pulang" yang sesungguhnya.