Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Sari Dewi adalah definisi kecantikan yang mematikan. Cerdas, tengil, dan penuh ambisi, ia berhasil membawa Wijaya Group menembus puncak kejayaan. Namun, di mata keluarganya sendiri, ia tetap hanyalah "anak haram" yang selalu dipandang sebelah mata. Muak diremehkan dan dipandang rendah, Sari mengambil langkah paling gila sekaligus paling brilian : menawarkan pernikahan kontrak pada pria paling dingin dan ditakuti.
Bagas Danuarta, pewaris tunggal Danuarta Corp yang dikenal arogan, kejam, dan tak tersentuh. Di balik kekuasaannya yang mutlak, ia dikelilingi "Serigala berbulu domba"—kerabat dan saingan yang diam-diam siap menerkam dan menjatuhkannya kapan saja. Pernikahan adalah satu-satunya cara mengunci posisinya di puncak.
Hingga Sari hadir membawa selembar kertas : Kontrak Pernikahan Dua Tahun. Sebuah kesepakatan saling menguntungkan untuk menumbangkan penghalang dan merebut takhta tertinggi di keluarga masing-masing.
Awalnya hanya dua luka yang saling memanfaatkan. Sebuah ikatan palsu yang berlumuran ambisi dan dendam. Namun, di tengah permainan kekuasaan dan kepura-puraan itu, satu pertanyaan perlahan menghantui mereka : Siapakah yang akan jatuh lebih dulu? Dalam jurang kehancuran. . . Atau dalam cinta yang mereka buat sendiri?