Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Rumah megah peninggalan kolonial itu tidak dibangun dari semen dan batu bata, melainkan dari titah para lelaki yang telah mati. Dan bagi Sekar, dia adalah sesajen yang dikorbankan di atas altarnya setiap hari.
Rutinitasnya dimulai pada pukul empat pagi, mengikis eksistensi dirinya di bawah tatapan menghakimi dari lukisan leluhur di dinding. Sekar adalah hantu domestik; ada untuk melayani Arya, suaminya, tetapi tak pernah benar-benar dilihat sebagai manusia.
Arya adalah penguasa yang sunyi. Dia tidak pernah memukul. Kekuasaannya bekerja seperti gas beracun tanpa bau—halus namun mematikan. Setiap kali Sekar tenggelam dalam kelelahan mental yang mencekik, Arya hanya perlu menjatuhkan satu kalimat tenang tentang 'nafkah' dan 'kodrat' untuk membungkamnya.
Namun, ketika tubuh Sekar menolak untuk patuh dan kesadarannya mulai merapuh akibat isolasi, dia menyadari satu hal: rumah ini tidak sedang melindunginya, melainkan sedang mencernanya perlahan-lahan.
Patriarki adalah sebuah catatan tentang keruntuhan yang sunyi. Kisah tentang seorang perempuan yang akhirnya memilih membakar seluruh jembatan di belakangnya, menolak menjadi tumbal tradisi, dan berjalan keluar menuju malam yang pekat—meski dia tahu, dunia siap menghakiminya sebagai pendosa.