Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Panggil Namaku Sekali Saja, Ibu Ia lahir pada sebuah hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan, tetapi justru menjadi awal dari sebuah kehilangan. Saat masih bayi dan belum mampu mengenal dunia, sebuah kecelakaan merenggut nyawa Ayahnya. Ia selamat dari kecelakaan itu, tetapi sejak hari tersebut, kehadirannya seakan selalu menjadi pengingat bagi Ibu tentang kehilangan suaminya. Bertahun-tahun kemudian, ia tumbuh dengan sebuah pertanyaan yang tidak pernah berani ia tanyakan secara langsung: apakah Ibu benar-benar membencinya, atau hanya membenci luka yang selalu hadir bersamanya? Setiap tatapan dingin, setiap panggilan tanpa kelembutan, dan setiap jarak yang tercipta membuatnya semakin percaya bahwa dirinya hanyalah bagian dari tragedi yang menghancurkan kehidupan Ibu. Padahal ia tidak pernah memilih untuk berada di dalam mobil itu. Ia tidak pernah meminta Ayah pergi untuk selamanya. Ia bahkan belum mampu memahami apa arti kehilangan ketika semua itu terjadi. Namun, bagaimana seorang anak bisa meyakinkan dirinya bahwa ia pantas dicintai ketika orang yang paling ingin ia dengar kasih sayangnya justru menjadi orang yang paling jauh darinya? Di sepanjang hidupnya, ia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin mendengar namanya dipanggil oleh Ibu—bukan sebagai pengingat akan seseorang yang telah pergi, melainkan sebagai panggilan seorang ibu kepada anak yang masih tinggal.