Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Enzi selalu merasa dirinya adalah orang yang paling biasa di keluarganya.
Ayahnya seorang dokter saraf ternama. Kakak perempuannya calon dokter bedah yang dipuji banyak orang. Adik laki-lakinya langganan juara olimpiade. Sementara Enzi? Ia bahkan belum tahu ingin menjadi dokter seperti apa.
Liburan semester yang seharusnya menjadi pelarian berubah menjadi petualangan tak terduga ketika sebuah desa longsor membuatnya terjebak di Desa Pela Gandong. Jauh dari hiruk-pikuk kota, Enzi harus membayar tumpangan dan makan bukan dengan uang, melainkan tenaga.
Dari salah mencabut sayuran, dikejar angsa, hingga muntah saat membersihkan kandang sapi, hari-harinya dipenuhi kekacauan yang mengundang tawa seluruh desa. Namun di tempat sederhana itu, tak seorang pun mengenalnya sebagai anak dokter hebat. Tak ada yang membandingkannya dengan kakak atau adiknya. Yang mereka lihat hanyalah seorang pemuda yang mau belajar dan membantu.
Di desa kecil yang tak pernah ada dalam rencana hidupnya, Enzi perlahan menemukan sesuatu yang selama ini hilang: tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Karena terkadang, perjalanan yang mengubah hidup bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh, melainkan tempat yang membuat kita merasa cukup.