Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Setelah badai di rumah kontrakan Jakarta berlalu dan Bapak telah berpulang dengan damai, Rania memilih menetap di rumah restorasi kampung halaman di Yogyakarta. Di rumah tua yang penuh kenangan itu, Rania berjuang membangun kariernya sebagai seorang novelis independen.
Namun, jalan yang ditempuhnya tidak pernah mudah. Ia harus berhadapan dengan tembok tebal dunia industri kreatif dan lingkungan sosial yang masih memandang sebelah mata penulis perempuan—menganggap karya perempuan hanya sebatas "bacaan picisan" dan perempuan tidak akan pernah mampu menghasilkan karya yang sehebat atau secerdas pria.
Di tengah perjuangannya melawan stigma tersebut, Rania bertemu dengan Damar, seorang pelukis kontemporer yang idealis dan pendiam. Berbeda dengan pria-pria di industri yang pernah dijumpai Rania, Damar adalah sosok yang sangat menghargai perempuan dan memandang Rania sebagai seorang seniman yang utuh dan setara. Di antara aroma cat minyak, denting ketik mesin ketik tua, dan diskusi panjang di sudut galeri seni, benih-benih perasaan perlahan tumbuh di antara keduanya. Namun, luka masa lalu, ketakutan akan kegagalan, serta prinsip untuk tidak mengorbankan impian masing-masing membuat tak satu pun dari mereka berani mengutarakan rasa.
Hubungan mereka bergerak halus, manis, namun menyusut secara perlahan dalam kesenyapan—meninggalkan sebuah rasa penasaran abadi yang tak pernah terucap.
Ini adalah novel sekuel dari Sisa Waktu di Rumah Kita.