Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
"Jangan pukul Tegar, jangan sakiti dia. Tegar sudah tidak beruntung dalam segala hal. Tidak ada tangan ayah yang mengantarnya ke sekolah. Tidak ada pelukan ibu yang menemaninya tidur. Tegar sudah hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya sejak lahir. Dia hampir tidak memiliki apa pun di kehidupan ini. Kalau aku ikut menyakitinya, lalu dia harus pulang pada siapa? Tegar cuma punya aku sebagai rumahnya."
Akhirnya aku mengerti, kenapa Mbah tidak pernah sekalipun memukulku. Bukan karena beliau memanjakanku tetapi karena Mbah tahu, aku sudah banyak menangis sejak kecil.
Sejak hari itu, aku berjanji tidak akan membuat Mbah menangis lagi. Aku tidak akan berkelahi lagi. Aku tidak akan memukul teman yang mengejekku sebagai anak haram. Aku ingin menjadi anak yang baik. Anak yang bisa dibanggakan Mbah.
Tapi hari ini, aku ada di kantor kepala desa. Setelah sebelumnya orang-orang dewasa itu memukulku tanpa memberiku kesempatan untuk bicara.
Mereka menuduhku mencuri. Aku sudah mengatakan kalau bukan aku pelakunya, tapi tidak ada satu pun yang mau mendengarkanku.