Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Menjadi sukses itu impian bagi semua orang. Tapi bagi Marzuki, definisi sukses itu sederhana: yang penting dapur tetap ngebul dan nggak kena omelan mertua.
Marzuki adalah definisi nyata dari milenial serabutan yang penuh trik untuk bertahan hidup di Jakarta. Kerjanya? Apa aja yang penting menghasilkan komisi instan; mulai dari makelar tanah, rumah, jual-beli mobil seken, agen properti, sampe jadi broker entertainment dangdut di hajatan kampung. Penghasilannya tidak menentu—kadang sebulan bisa meraup pendapatan sebesar gaji manajer, tapi lebih sering di bawah UMR. Modalnya cuma mulut manis dan muka tembok. Dia nggak bisa lihat cewek bening dikit, padahal di rumah kontrakan mertua yang ia tumpangi, Marzuki sudah punya bini cakep dan tiga orang anak. Ditambah lagi anak sulungnya, Fauzi, biaya sekolahnya harus ditanggung penuh oleh sang mertua karena dompet Marzuki lebih sering kempes daripada mengembang. Bukannya tahu diri dan fokus jadi kepala keluarga yang lurus, Marzuki malah makin miring. Setiap kali dapet proyek job dangdut, matanya selalu jelalatan kalo udah melihat biduan berjidat licin. Padahal wajahnya "Tampang Kodian"—istilah yang menggambarkan untuk muka pasaran, mirip daster di pasar Tanah Abang. Bagi Marzuki, kerja serabutan itu biasa. Tapi ketika komisi percaloannya mulai seret dan sang bini mulai curiga kenapa suaminya mendadak rajin keluar malam dengan penampilan keren dan klimis, Marzuki harus bersiasat agar nasibnya tidak berakhir dihajar dan diusir dari rumah mertua.