Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Lea berusia dua puluh tujuh tahun, sudah punya tiga anak, dan hidupnya berjalan seperti rumah tanpa remote TV—ramai, berisik, dan semua orang merasa paling benar.
Ia menikah muda bukan karena cinta ala drama Korea, melainkan karena tekanan hidup yang datang dari segala arah. Lea dan Adrian sama-sama masuk pernikahan dengan modal niat baik, kesiapan pas-pasan, dan harapan yang terlalu optimis. Enam bulan setelah menikah, ayah Adrian meninggal. Sejak itu, mereka resmi menjalani kehidupan rumah tangga tanpa buku panduan dan tanpa jeda iklan.
Lea adalah anak kedua. Ia tumbuh melihat kakaknya bertahan terlalu lama dalam pernikahan yang kacau—diam, sabar, dan lelah, sampai akhirnya sakit dan meninggalkan dua anak balita. Lea bersumpah pada dirinya sendiri: ia tidak mau sakit karena memendam. Ia ingin bicara, berdebat sehat, dan membangun rumah tanpa patriarki yang katanya "sudah dari dulu begitu".
Sayangnya, Adrian dibesarkan dengan keyakinan bahwa diam adalah bentuk kedewasaan, sementara Lea percaya berbicara adalah satu-satunya cara bertahan hidup. Di sinilah perang kecil dimulai—bukan dengan teriakan, tapi dengan kalimat setengah jadi, sindiran halus, dan anak-anak yang tiba-tiba muncul saat suasana sedang serius.
Di antara popok, cucian, dan percakapan yang sering salah tangkap, Lea belajar bahwa menjadi ibu dan istri bukan soal menjadi paling kuat atau paling sabar. Kadang, itu soal tertawa di tengah kekacauan dan mengakui bahwa tidak semua hal harus dimenangkan.
MaiMama adalah kisah keluarga kecil yang tidak rapi, pernikahan yang penuh salah paham, dan upaya membangun "rumah" sambil terus bertanya: apakah ini sudah cukup baik?
Karena ternyata, menjadi dewasa bukan berarti selalu tenang, kadang justru berisik, jujur, dan sangat manusiawi.