Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Dada ibuku tidak lagi mengalirkan susu, dan hutan kami tidak lagi mengalirkan kehidupan. Mereka menamainya pembangunan, tapi kami menyebutnya pembantaian.
Ketika rumah kami dikulisi secara paksa atas nama komando dan pembangunan, aku terjebak dalam pusaran dosa yang bukan ciptaanku. Aku menyaksikan tanahku menjerit, rakyatku terasing di tanah sendiri, dan jiwaku perlahan ikut mati bersama kasuari.
Di satu sisi, darah leluhur mengalir di nadiku, mengikatku pada pohon-pohon raksasa dan sungai yang dulu memberi kami kehidupan. Di sisi lain, deru gergaji mesin dan derap sepatu lars terus merobek belantara kami, mengubah tanah keramat menjadi padang debu yang gersang dan mati.
apakah seorang anak yang kehilangan rumahnya masih punya hak untuk bermimpi?
Kali ini suguhan Lintang si penulis novel ini beda dari biasanya. Ibarat Chef biasanya menyajikan cemilan, kali ini seperti makanan utama yang berat, tapi citarasa justru pedas membara. Selalu kritis mau cerita versi "absurd" seperti katanya untuk beberapa cerita "cemilannya", maupun yang serius seperti yang satu ini. Jejak kritisnya selalu bikin kita mikir.