Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Juni tidak tahu takdir apa yang menggerogoti kewarasannya. Saat itu, dia hanya anak-anak yang iri, hanya bocah laki-laki yang ingin dicintai. Juni tidak pernah bermaksud membunuh satu-satunya yang dia miliki, tapi jelas bahwa dia berniat mendorong Mei ke sungai saat hujan menderai begitu derasnya.
Meski Mei baik-baik saja, rasa bersalah Juni terus mengikuti layaknya bayangan. Selepas hujan, Juni kedinginan sendirian. Juni selalu ingin Mei mati karena iri, tapi Juni sangat membenci dirinya yang berpikir seperti itu.
"Jun," panggil Mei ketika Juni menangis tersedu-sedu. Juni menoleh lemah, tapi tatap mata Mei begitu teduh sampai Juni lupa rasa sakitnya, matanya yang menenangkan, dan lekuk senyum yang menyiratkan kehangatan. Juni lupa, bahwa dia membencinya.
"Jun," katanya lagi menghampiri Juni, memeluk kewarasan dan sisa rasa sakitnya. "Kamu baik-baik saja, kan?"
Tidak ada jawaban, Juni hanya terisak. Dengan setiap helaan napasnya, Juni berusaha tetap hidup untuk Mei.