Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Larasati (Laras) adalah barista berusia 26 tahun yang sedang berjuang membuka kedai kopi kecilnya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Hidupnya sudah cukup rumit: utang bank, ibu yang sakit-sakitan, dan mantan pacar yang kabur setelah menghabiskan tabungannya. Suatu pagi hujan deras, seorang pria tampan berjas rapi masuk ke kedainya hanya karena payungnya basah kuyup. Namanya Arkan Wiratama, 29 tahun, seorang marketing director di perusahaan startup besar yang sedang ekspansi. Arkan terbiasa dengan kopi mahal dan jadwal padat, tapi satu teguk kopi hitam buatan Laras membuatnya kembali setiap pagi. Awalnya hanya obrolan singkat tentang cuaca dan rasa kopi. Lama-kelamaan, Arkan mulai membantu Laras tanpa diminta — dari urusan izin usaha sampai ide promosi. Tapi Laras punya trauma: dia takut jatuh cinta lagi pada pria "sempurna" yang akhirnya pergi saat masalah datang. Ketika kedai Laras hampir tutup karena masalah sewa tempat, Arkan mengajukan proposal kerjasama bisnis. Tapi di balik itu, hatinya sudah lama jatuh pada Laras. Apakah Laras bisa percaya lagi? Atau Arkan harus membuktikan bahwa janji manisnya bukan sekadar kata-kata?