Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Di negeri ini, ayat suci dilantunkan dengan merdu, tapi kebijakan sering sumbang. Masjid penuh, doa panjang, tajwid rapi—namun ketika sampai di meja rapat, makna seolah ditinggal di rak sepatu.
Novel ini adalah dokumenter satir yang menelusuri 114 surat, bukan untuk menggurui, tapi untuk menguliti. Dari Al-Fatihah yang tiap hari dibaca tapi jarang direnungi, sampai An-Nas yang bicara tentang bisikan halus di dalam dada—semuanya disorot dalam konteks negeri yang religius di mulut, tapi sering pragmatis di tindakan.
Di sini, "jalan lurus" bukan cuma istilah spiritual, tapi bahan perbandingan dengan tikungan politik. "Hari pembalasan" bukan dongeng akhirat, tapi cermin untuk keputusan yang diambil seolah tak akan pernah dipertanyakan. "Tak ada keraguan dalam kitab" bertabrakan dengan rapat-rapat yang penuh abu-abu.
Buku ini tidak menyerang. Ia hanya menyalakan lampu di ruangan yang terlalu lama nyaman dalam redup. Ia bertanya, dengan nada jalanan yang sengaja dibuat santai: kalau kita baca kitab yang sama 17 kali sehari, kenapa negeri ini masih sering tersesat arah?
Setiap bab membuka satu surat. Setiap surat membuka satu luka. Dan di akhir perjalanan 114 bab, pembaca akan sadar—yang sedang diadili bukan hanya pemerintah, tapi juga diri sendiri.
Karena mungkin masalah terbesar bukan kita tidak tahu jalan lurus. Tapi kita terlalu sering pura-pura tidak melihatnya.