Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
"Nasab kiai bukanlah mahkota untuk disombongkan, melainkan amanah hisab yang harus dipikul dengan kerendahan hati."
Di balik tembok Pesantren Darul Ikhsan Mataraman, Gus Muhammad Qoifun Habibillah memilih jalan yang tak lazim: menanggalkan privilese statusnya sebagai putra kiai besar. Demi menggembleng jiwa dan menepis arogansi nasab, ia diasingkan untuk riyadhoh dan khidmah sebagai santri biasa di bumi pegunungan Malang.
Takdir mempertemukannya dengan Ning Siti Ghoniyah Shobiyah—putri ulama berdarah Madura—melalui ikatan janji sanad dua kiai. Tanpa kemewahan pesta, di bawah temaram lampu robyong, janji suci terucap. Namun, menyatukan dua jiwa dalam kerendahan hati ternyata tak semudah membalik lembaran kitab.
Di antara canggungnya malam-malam awal yang dihangatkan wedang jahe dan bait-bait Al-Hikam, riak kecemburuan, surat kaleng, dan ujian nasab mulai menggoyang ketenangan. Mampukah ketawadhuan mematahkan prasangka, dan akankah cinta yang tumbuh di seberang bilik santri ini mewangi dalam keberkahan?