Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Matahari mulai tenggelam ketika Farhan memarkir mobilnya di halaman rumah. Sudah sepuluh tahun ia menikah dengan Aisyah. Rumah tangga mereka dipenuhi kasih sayang, tetapi mereka belum juga dikaruniai anak. Suatu malam, Aisyah berkata dengan suara pelan, "Mas, apa pun yang terjadi nanti, aku ingin kita tetap saling jujur." Farhan menatap istrinya. "Kenapa bicara seperti itu?" "Aku hanya ingin Mas bahagia." Beberapa bulan kemudian, dalam sebuah perjalanan dinas, Farhan bertemu dengan Salma, seorang guru yang dikenal santun dan mandiri. Pertemuan mereka bermula dari urusan pekerjaan, namun lambat laun berubah menjadi persahabatan. Farhan menyadari bahwa keputusan untuk berpoligami bukanlah perkara sederhana. Ia menghabiskan banyak malam dalam doa dan pertimbangan. Ia tahu, jika langkah itu diambil, maka keadilan, tanggung jawab, dan kejujuran harus menjadi pegangan utama. Ketika akhirnya Farhan menyampaikan niatnya kepada Aisyah, suasana rumah berubah sunyi. Air mata Aisyah menetes, bukan karena benci, melainkan karena hatinya sedang diuji. "Aku tidak bisa berkata ini mudah, Mas," ucap Aisyah lirih. "Tapi jika ini memang keputusan yang sudah dipikirkan dengan matang, aku hanya berharap kita tetap saling menghormati." Farhan menggenggam tangan istrinya. "Aku berjanji tidak akan mengurangi hak dan penghormatanku kepadamu." Beberapa minggu kemudian, Farhan menikahi Salma secara sah. Sejak hari itu, kehidupan mereka bertiga memasuki babak baru—penuh harapan, kecemburuan, pengorbanan, dan pelajaran tentang arti keadilan dalam sebuah keluarga. Tidak ada yang tahu, ujian terbesar mereka ternyata baru saja dimulai.