Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Dulu, meja makan itu selalu ramai. Tawa Dani kecil, celoteh Maya, dan canda suami Arga yang suka menyelipkan potongan daging ke piring Rina diam-diam. Namun, itu dulu.
Pelan, retak itu datang. Arga sibuk lembur, Rina lelah mengurus rumah sendirian, dan komunikasi mereka tinggal satu-dua patah kata. Anak-anak mulai diam. Maya berhenti bercerita tentang sekolahnya.
Dani lebih sering mengunci kamar. Rina tahu ada yang salah, tapi dia terlalu lelah untuk memulai. Arga juga tahu, tapi gengsinya lebih besar dari rasa bersalah.
Puncaknya malam itu. Rina menemukan Arga merokok di teras jam dua dini hari padahal dia sudah berhenti tujuh tahun lalu. Di belakangnya, pintu kamar Maya tertutup rapat, dari dalam terdengar isak tertahan setelah tahu orangtuanya hampir bercerai. Dani, yang mendengar semuanya dari balik tembok, hanya menggigit bibir sampai hampir berdarah.
Mereka berpisah. Arga pergi ke luar kota, Rina kembali ke rumah ibunya, Maya dan Dani terpaksa tinggal dengan paman yang dingin. Hampir delapan tahun tak ada kabar. Keluarga itu lupa cara bahagia, bahkan lupa cara tersenyum tulus di Hari Raya.
Namun, takdir kadang jahat dulu, baru baik di akhir. Di sebuah rumah sakit di ruang tunggu yang sunyi Rina, Arga, Maya, dan Dani bertemu lagi. Bukan dengan pelukan, tapi dengan air mata yang tumpah tanpa suara. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya berbisik, "Ma, aku kangen."