Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
"Demi ketampanan yang abadi, sedalam apa kau berani menggali lubang kutukanmu sendiri?"
Kamandaka adalah pemuda tujuh belas tahun dengan ketampanan yang mampu menyirep seantero Kerajaan Galuh. Pesona fisiknya yang sempurna berhasil memikat hati Ratu Penguasa hingga ia diangkat menjadi Raja Pendamping. Namun, takhta belum memuaskan ambisinya yang sedalam jurang; Kamandaka mendambakan pemujaan yang abadi.
Di malam sebelum penobatan, ia nekat melakukan perjanjian darah dengan kekuatan gaib melalui perantara sebutir buah maja berdenyut. Kamandaka mendapatkan wajah yang menolak menua meski ratusan tahun berlalu dan kerajaannya telah runtuh menjadi puing dongeng. Namun, ia terlambat menyadari konsekuensi mengerikan di balik hadiah gratis sang iblis.
Keabadian itu ternyata berwujud kutukan panggung teater misterius di zaman modern. Setiap malam, Kamandaka dipaksa menjadi tontonan mengerikan. Tubuhnya dimutilasi, dicincang, dan isi perutnya terburai di hadapan penonton yang bersorak histeris, mengira itu hanyalah trik sulap belaka. Ia merasakan perihnya kematian sejati, lalu disembuhkan kembali secara gaib hanya untuk disiksa pada pertunjukan esok hari. Bersama Suarsih, pelayan setianya yang terus merawat luka berdarah tersebut, Kamandaka kini hanya memiliki satu keinginan terbesar di setiap hari ulang tahunnya: mati.