Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Sebuah kisah tentang rumah yang belajar menjadi keluarga
Di sebuah kampung pesisir, berdiri rumah tua peninggalan keluarga Lim. Hidup di dalamnya seperti api yang hampir padam—jarang berasap, jarang berdoa, jarang tertawa.
Di rumah itu tinggal Lim Kim Long—Along. Tangannya piawai memegang besi, lasannya rapi seperti jahitan halus pada kain pengantin. Namun hidupnya tak serapi hasil kerjanya. Pemabuk, penjudi, pernikahannya karam. Istrinya, Siu Lan, pergi membawa dua anak: Ai Phing yang baru enam tahun, dan Ka Thiam yang masih dua tahun.
Delapan tahun berlalu.
Siu Lan meninggal. Keluarga istrinya tak sanggup menanggung kedua anak itu. Maka Ai Phing dan Ka Thiam dipulangkan—kembali ke rumah ayah mereka.
Kepada Along.
Bagi Along, itu bukan kabar gembira. Ia menerimanya seperti menerima hujan di musim yang sudah basah—tanpa syukur, tanpa keluh yang jujur. Hidupnya sudah cukup rusak. Rumah berantakan, dapur dingin, altar leluhur berdebu. Kini ia harus menanggung dua anak yang baginya adalah sisa kegagalan masa lalu.
Ai Phing kembali sebagai gadis remaja yang matanya menyimpan arus dalam. Ka Thiam, bocah sepuluh tahun yang masih mencari-cari wajah ibunya di antara asap hio. Mereka datang bukan untuk menghangatkan rumah, tapi untuk bertahan.
Di kampung yang sama, adik Along—Asuang—hidup di antara dua kesetiaan: darah dan pernikahan. Diam-diam ia membantu, meski mertuanya tak suka.
Kisah ini bergerak bukan dengan peristiwa besar, melainkan dengan perubahan kecil: Ai Phing yang belajar memasak agar dapur berasap lagi. Ka Thiam yang mulai membantu di bengkel las. Asuang yang datang membawa makanan, menatap keponakannya dengan mata basah. Dan Along—lelaki egois yang tak merasa bersalah—perlahan dihadapkan pada dua pasang mata yang tak pernah ia minta, namun tak pernah bisa ia usir.
Keluarga, di rumah ini, adalah sesuatu yang harus dipelajari. Dipahat. Dilas ulang seperti besi patah.
Harta bisa habis. Kesehatan bisa runtuh. Tapi keluarga—bahkan yang retak dan berdebu—kadang lebih keras dari baja.
Dan di antara altar leluhur yang mulai rutin dinyalakan hionya, serta laut yang tak pernah berhenti beriak, kisah ini bertanya pelan: Bisakah seorang ayah yang tak pernah peduli pada keluarga belajar arti keluarga—sebelum semuanya benar-benar hilang?