Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Di sebuah gang Melati semua orang saling mengenal, tetapi ada satu nama yang jarang sekali disebut dengan utuh. Bukan karena orang-orang lupa, melainkan karena keberadaannya seperti sesuatu yang sejak awal dianggap tidak seharusnya ada. Dia adalah Nadira. Nadira tumbuh di rumah yang penuh dengan kenangan tentang lelaki yang bukan ayahnya, lelaki yang begitu dicintai lingkungan, begitu dikenang, hingga siapa pun yang datang setelahnya dianggap merusak sesuatu yang sakral. Ketika ibunya memutuskan menikah lagi dan melahirkan dirinya, rumah itu tak pernah benar-benar membuka pintunya.
Keadaan memaksa ayahnya pergi menjauh. Nadira tinggal bersama stigma yang tak pernah ikut pergi. Di rumah itu, ia belajar bahwa tidak semua orang yang tinggal dalam satu rumah bisa disebut keluarga. Dua kakak perempuannya menatapnya seperti kesalahan yang tak pernah selesai diperbaiki.
Di luar rumah, bisik-bisik tentang asal-usulnya tumbuh lebih cepat daripada usianya. Setiap sudut gang seperti menyimpan pertanyaan yang tak pernah sanggup ia jawab. Siapa ayahmu sebenarnya? Kenapa kau masih tinggal di sini? Dan mengapa tak ada seorang pun yang benar-benar menyebutmu sebagai bagian dari rumah ini?
Sejak kecil, Nadira tahu satu hal, ia tidak bisa meminta untuk dicintai. Maka ia memilih cara lain agar keberadaannya tak bisa diabaikan.
Ia belajar lebih keras daripada siapa pun. Menyimpan tangisnya sendiri. Membungkam lapar, malu, dan sepi dengan angka-angka di rapor yang terus mendekati sempurna. Di sekolah, namanya disebut dengan bangga. Di rumah, namanya tetap berlalu seperti angin. Namun seberapa lama seseorang bisa hidup hanya dengan pengakuan dari dunia luar, ketika rumahnya sendiri tak pernah memberinya tempat untuk pulang?
Ketika sebuah keadaan memaksanya mengubur impian, Nadira menemukan dirinya berdiri di persimpangan antara menyerah seperti yang diam-diam diharapkan banyak orang, atau terus berjalan meski tak ada siapa pun yang percaya ia akan sampai. Ia memilih berjalan. Walaupun sendirian.
Langkah kecil itu membawanya semakin jauh dari rumah yang dulu menolaknya, hingga pada suatu hari, dunia memanggil namanya jauh lebih lantang daripada semua bisik-bisik yang pernah mencoba menghapusnya.
Namun keberhasilan tak selalu menyembuhkan luka. Sebab ada jarak yang tak bisa diukur oleh kilometer, ada rumah yang tetap terasa asing meski pintunya tak pernah benar-benar terkunci, dan ada maaf yang jauh lebih sulit diperjuangkan dari pada mimpi apa pun.