Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Kadang, tempat yang paling jauh dari rumah justru yang membuat kita tahu ke mana sebenarnya ingin pulang.
Firza, 40 tahun, sudah lama berhenti berharap. Bukan karena hidupnya buruk—pekerjaannya lancar, rumahnya rapi, semuanya baik-baik saja. Justru itu yang paling ia takuti: hidup yang berjalan di tempat yang sama, hari demi hari, sejak perceraiannya enam tahun lalu.
Tanpa rencana matang, ia memesan tiket ke Jogja. Sebulan saja, katanya pada diri sendiri. Sekadar singgah.
Rencana itu berantakan pada hari kelima, ketika sebuah foto jalanan yang ia ambil tanpa sengaja menangkap wajah seorang perempuan berhijab yang sedang tertawa di kejauhan.
Namanya Ami. Periang di permukaan, keras kepala di dalam—dan sedang berjuang sendirian menyembunyikan sesuatu yang perlahan meruntuhkan dunianya.
Keduanya sama-sama bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi. Firza karena trauma yang belum sepenuhnya sembuh. Ami karena persoalan yang tak pernah ia bagikan pada siapa pun—apalagi pada laki-laki asing yang katanya cuma "singgah" di kotanya.
Tapi Jogja, kota yang membiarkan orang berjalan pelan-pelan, punya cara sendiri mempertemukan dua orang yang sama-sama sedang berlari dari sesuatu.
Ketika masa lalu Ami akhirnya terbongkar, dan waktu Firza di Jogja ternyata jauh lebih singkat dari yang mereka kira—akankah cinta yang tumbuh dari kebetulan ini cukup kuat bertahan melawan jarak, luka lama, dan keraguan yang belum sepenuhnya hilang?
Atau, seperti yang mereka takutkan sejak awal, akankah semua ini hanya menjadi satu lagi kisah singgah yang berakhir menjadi kenangan?