Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
PERINGATAN CERITA INI MENGANDUNG BAWANG Selama membaca novel ini... mungkin mata Anda akan terasa sedikit panas. Bukan karena debu. Bukan karena layar ponsel. Melainkan karena ada kisah yang diam-diam menyentuh bagian hati yang selama ini tidak pernah Anda sadari. Jika suatu saat nanti Anda menemukan diri Anda tersenyum... lalu beberapa halaman kemudian tanpa sadar menyeka air mata... tenang saja. Itu bukan salah Anda. Itu hanya efek samping dari terlalu mencintai seseorang yang sedang belajar saling memahami.
Siapkan tisu. Bukan karena cerita ini sedih. Tetapi karena beberapa perasaan memang hanya bisa keluar lewat air mata.
Ketika satu hati kehilangan suara, hati yang lain memilih belajar mendengar.
Ada orang yang kehilangan suara.
Ada pula yang kehilangan keberanian untuk menggunakannya.
Juno memilih hidup dalam diam setelah sebuah kecelakaan mengubah hidupnya. Ia datang ke taman setiap sore, membawa kamera, mengabadikan burung-burung dan langit senja, seolah gambar-gambar itu mampu menggantikan kata-kata yang tak pernah lagi ia ucapkan.
Di tempat yang sama, Yuna selalu datang sebelum matahari tenggelam. Ia duduk di bangku yang sama, memejamkan mata, dan mendengarkan kicau burung dengan sepenuh hati. Bukan karena ia menyukai senja lebih dari siapa pun.
Melainkan karena setiap sore, ia takut itu adalah hari terakhir ia masih bisa mendengar suara mereka.
Dua orang.
Dua kesunyian.
Satu taman.
Tanpa banyak percakapan, mereka mulai saling mengenal melalui foto, pesan singkat, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan berubah menjadi alasan untuk terus menunggu sore berikutnya.
Namun cinta tidak selalu dipisahkan oleh jarak.
Kadang...
ia dipisahkan oleh sebuah kesalahpahaman.
Dan ketika semua terasa telah terlambat...
mereka harus belajar bahwa ada bahasa yang lebih kuat daripada suara.
Bahasa yang lahir dari ketulusan.
Bahasa yang hanya bisa dipahami oleh hati.
Karena pada akhirnya...
cinta bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara.
Melainkan tentang siapa yang memilih tetap tinggal...