Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Hai, perkenalkan, nama aku Larania Putih Dapa. Aku adalah seorang anak yang kebingungan. Aku sering disakiti tanpa sebab. Jadi salah pas diam. Tiba-tiba dilukai dan dijadikan penjahat.
Aku adalah anak tunggal dari pasangan yang sama-sama memiliki dendam. Dengan dendam yang membara, maka aku sering kali jadi objek kemarahan. "Kamu cuma beban", "dasar benalu", "sana pergi dari rumahku", "kau anak nakal dan tak berbakti", "kau hanya benalu", "karena kau rumah ini panas", "pembawa sial", "kau harusnya mati", "kau penyakitan", "jangan lemah dan bergantung pada orang", "kau harus bisa bekerja karena kau penyakitan", "jangan mulai itu karena berat, kau nggak bakal bisa karena kau lemah", "kau seharusnya bukan di sini karena kau itu pembuat onar", "jangan pergi karena kaulah harapan kami". Kalimat seperti itu yang mengiringi aku tumbuh dan gilanya aku dituntut menjadi cewek _soft-spoken_ yang ramah.
Aku tumbuh dari makian, bully-an, pukulan, manipulasi. Mulutku dibungkam, dituntut jadi dewasa sebelum waktunya, dituntut sukses tapi gerakku dibatasi. Dituntut dewasa padahal pendapat dan suaraku tidak dihargai. Dituntut mandiri padahal setiap gerak aku selalu dihalangi. Dituntut kuat dari kecil dan tidak boleh mengeluh.
Aku hanya ingin jauh dari rumah ini, karena bagiku rumah ini tidak lain dari rumah hantu. Aku tidak menyalahkan orang tua atau siapa-siapa atas yang terjadi karena semua itu adalah efek dari luka mereka di masa lalu. Aku tidak dendam dan aku masih ingin merawat mereka. Tapi jika bertahan di rumah ini aku tidak bisa ngontrol emosi. Dan pasti aku bakal marah dan saling menyakiti.