Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Girimulya, kota kecil di lereng pegunungan, tampak seperti tempat sempurna untuk menghilang. Itulah alasan Rasa Adiwangsa pindah ke sana—membawa lukanya sendiri, satu tahun setelah kehilangan putri satu-satunya, Kirana, dalam kecelakaan yang tak pernah benar-benar bisa ia pahami.
Tapi Girimulya menyimpan kutukannya sendiri. Rumah-rumah lapuk dalam semalam. Warga lupa nama orang yang mereka cintai, lalu ingat kembali seolah tak terjadi apa-apa. Semua bermula—atau berpusat—di sebuah fasilitas penelitian tua yang sudah dua puluh tahun ditutup, di bawah Bukit Ler.
Ketika seorang fisikawan asing bernama Adam Nusantara datang membawa dokumen lama, Rasa dipaksa menghadapi kenyataan yang jauh lebih personal dari yang ia duga: nama suaminya—dan namanya sendiri—tercatat di sana, setahun sebelum Kirana meninggal.
Semakin dalam Rasa menggali, semakin ia sadar bahwa yang membusuk bukan hanya kota ini. Ingatannya sendiri tentang kematian putrinya mulai berubah setiap kali ia mengingatnya kembali. Rasa tidak sedang menyelidiki sebuah misteri.
Ia sedang kehilangan kendali atas kenyataannya sendiri—dan jawabannya mungkin lebih menyakitkan daripada tidak pernah tahu sama sekali.