Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Magetan, awal dekade 1970-an. Sundari tumbuh sebagai satu-satunya anak perempuan di tengah riuhnya sepupu laki-laki. Ayahnya seorang juru pengairan berdarah priyayi. Sedangkan ibunya penjual emping melinjo dari kalangan rakyat biasa. Bau melinjo yang dijemur setiap pagi dan suara angklung di sore hari adalah dunia kecilnya yang terasa lengkap. Hingga sebuah obrolan ringan di bangku Sekolah Pendidikan Guru membongkar rahasia yang selama ini tersembunyi rapi di balik kata "tugas". Ayahnya telah menikah lagi diam-diam dengan perempuan dari desa sebelah. Sang ibu sudah lama tahu dan memilih diam. Alih-alih hancur, Sundari dan ibunya menemukan jalan yang tak terduga. Tangan yang dulu hanya memipihkan emping, kini belajar menganyam tampah dan tanggok. Dapur sederhana berubah jadi warung kopi kecil di pasar desa. Dua perempuan yang dikhianati menemukan kekuatan dalam kerja keras serta solidaritas yang tak pernah mereka duga. Tapi hidup tak berhenti memberi ujian. Saat sang ayah jatuh sakit, dan saat Sundari harus membuktikan dirinya layak menjadi seorang guru untuk program pemerintah di tempat terpencil, satu pertanyaan tetap menggantung. Bisakah ketabahan tanpa kepahitan benar-benar menyembuhkan luka yang sudah bertahun-tahun mengendap?