Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Ia mengajari semua orang menerima. Kecuali dirinya sendiri.
"Kakakku bilang tidak. Biasanya itu berarti mungkin."
Secarik kertas dari seorang gadis tiga belas tahun membawa Nada Aulia, mahasiswi S2 musik asal Kotagede, ke sebuah rumah berpintu biru di Edinburgh. Di sana ia mengajar gitar tanpa bayaran, dengan pintu yang selalu terbuka dan seorang ibu yang selalu melipat cucian di dekat jendela.
Kakak muridnya, Elang, arsitek pemugaran yang kaku dan pendiam, jarang sekali bicara, apalagi tentang dirinya sendiri. Tapi setiap kali les, ia duduk lima menit di kursi dekat pintu. Ia meninggalkan payung di bangku halte, lalu berjalan pulang di tengah hujan tanpa menoleh. Dan setiap kali angin berubah arah, ia diam-diam berpindah ke sisi angin. Tanpa sepatah kata. Dan telinganya selalu memerah setiap kali Nada mendengarkannya.
Lalu sebuah buku catatan bersampul biru mulai berpindah dari meja ke meja. Pelajaran demi pelajaran: berterima kasih, meminta maaf, bertanya sebelum membantu.
Tapi Nada adalah anak sulung yang terbiasa kuat, yang memberi tanpa pernah meminta. Ketika gosip menyeret nama mereka dan kabar dari rumah memaksanya pulang, satu ketakutan tumbuh diam-diam: bagaimana jika ia dipilih hanya karena dikasihani?
Di antara hujan Edinburgh dan senja Kotagede, keduanya harus belajar satu pelajaran terakhir.