Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Serat Centhini yang digubah Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura, Raden Ngabehi Sastradipura, Pangeran Jungut Manduraja, dan Kiai Mohammad tersebut merupakan karya masterpiece dan sekaligus sebagai ensklopedi Jawa Karena selain mengungkapkan kisah tentang pengembaraan beberapa tokoh, semisal: Syekh Amongraga, Jayengsari, Niken Rancangkapti, Cebolang, Jayengresmi (Jayengwesthi), Jayengraga, Niken Tambangraras, Centhini, dll; Serat Centhini pula mengungkap berbagai tradisi, budaya, dan kearifan masyarakat Jawa. Berangkat dari nilai-nilai kultural, edukatif, dan filosofis baik tersurat maupun tersirat di dalam Serat Centhini; maka serat yang ditulis dengan bentuk rangkaian pupuh tembang macapat berbahasa Jawa tersebut layak ditelaah, direinterpretasikan, dan digubah ke dalam bentuk karya fiksi (novel) dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini agar nilai-nilai yang terkandung di dalam serat tersebut dapat dipahami oleh masyarakat luas. Serat Centhini yang menjadi sumber inspirasi dalam Novel Modern: CENTHINI GUGAT [Kupu Putih Desa Jurang Jangkung] merupakan karya yang menjawab bahwa wanita Jawa bukan sekadar kanca wingking dan patner seks. Namun, wanita lebih diposisikan sebagai insan pemberani, pejuang, dan pembaharu. Hal ini dapat ditilik melalui tokoh-tokoh: Ratu Pandansari, Niken Rancangkapti, Niken Tambangraras, Centhini, Dewi Kilisuci, Ganda Arum, dan Kinanthi. Putra semata wayang Centhini yang merupakan tokoh utama dalam novel ini. Karenanya dengan membaca novel ini, Anda tidak hanya dapat mengikuti kisah dalam Serat Centhini, namun pula dapat mengambil nilai-nilai kearifan di dalamnya. Termasuk nilai-nilai kearifan masyarakat Jawa terhadap peran seorang wanita yang bukan sebagai obyek, namun sebagai subyek yang turut mewarnai kanvas zaman agar lebih beradab.
Novel ini wujud dari reinterpretasi kreatif atas Serat Centhini, sebuah ensiklopedia kebudayaan Jawa yang merangkum kosmologi, filsafat hidup, tradisi, dan spiritualitas melalui untaian tembang macapat. Dengan dramaturgi yang bertumpu pada pengembaraan dan pergulatan para tokohnya, novel ini membentangkan jagat protagonis dan antagonis, tetapi juga menguji dharma, kawruh, dan laku batin manusia dalam menghadapi perubahan zaman. Semangat sangkan paraning dumadi, rasa, dan budi luhur yang berkelindan dengan khazanah serat Jawa kuno memperkaya dimensi filosofis novel ini, sementara judul Centhini Gugat menghadirkan kontras menarik antara tradisi adiluhung dan keberanian melakukan reinterpretasi terhadap warisan leluhur. Sebuah lakon pambaharuan yang menempatkan perempuan sebagai dalang atas pilihan hidupnya sendiri, merajut kembali nilai-nilai kearifan Jawa agar tetap relevan di tengah dinamika zaman modern.
Seperti judulnya, novel ini menggugat yang tersurat dalam Serat Centini. Kendaraan cerita begitu mulus, apalagi saat memasuki babak dua. Dibalut dalam bahasa yang klasik, tapi isinya dekat dengan masa ini. Apik tenan.